Senin, 23 Februari 2015

Patah Hati

Kamis itu, pukul 22.30 WIB, kami mendapat kabar bahwa ibu mertua telah wafat. Berita duka itu datang begitu cepat, bahkan kami tidak bisa terlarut dalam kesedihan, karena harus mencari tiket mudik secepatnya.

Perjalanan dari bandara Abdul Rahman Saleh Malang, ke kampung ibunda terasa begitu lama. Begitu sampai di rumah mertua, kami langsung menghambur ke bapak mertua, mohon ampun karena tidak bisa datang lebih cepat pada saat pemakaman ibu. Ya, di kampung bapak mertua, acara pemakaman memang dilakukan pagi-pagi, sekitar jam 09.00 WIB, sedangkan kami baru tiba di siang bolong.

Bapak terlihat begitu terpukul akan kepergian ibu. Selama tiga belas tahun merawat ibu, seorang diri, sampai akhirnya ibu dipanggil Tuhan. Beliau meratap dan menyalahkan diri sendiri, kenapa tidak melihat tanda-tanda.

Ibu memang terkena stroke dan diabetes selama tiga belas tahun terakhir. Dengan setia, bapak merawat ibu. Beliau tidak mengijinkan seorangpun ikut campur, kecuali dalam keadaan yang sangat mendesak. Beliau bilang, dulu memulai hidup berdua, bersama-sama, suka bersama-sama, dan sekarang, duka juga harus dijalani bersama-sama. Bapak terlihat begitu sabar, tegar, santai dan riang menjalaninya. (Bapak mertua memang orangnya easy going).

Tiap hari, Bapak merawat ibu, dari mulai bangun hingga tidur di malam hari. Beliau dengan setia memandikan ibu, memakaikan pakaiannya, mengantar ke dokter atau RS, memasak hingga mencuci pakaiannya. Pernah, kami, anak-anaknya mengusulkan untuk mengambil seorang pembantu, paling tidak untuk memasak atau mencucikan pakaiannya. Karena anak-anak kebetulan bertempat tinggal jauh dari beliau, jadi tidak bisa membantu secara langsung. Tapi bapak dengan keras menolak. Beliau bilang, adalah kewajiban seorang suami untuk merawat istrinya, dan beliau tidak ingin menyesal jika kelak terjadi apa-apa dengan ibu. Jadi, selama ibu ada di sampingnya, bapak akan merawat ibu dengan total.

Itulah Bapak.. dan begitulah bapak dan ibu menjalani kedupan mereka hari demi hari. Mereka hanya berdua di rumah yang sejuk, di daerah Selorejo, Sidomulyo .. sekitar lereng gunung Kawi.

Saya sungguh kagum melihat kedupan beliau berdua. Saya lihat begitu besar kasih beliau satu sama lain. Tak heran jika bapak begitu terpuruk sepeninggal ibu. Sosok pria tinggi besar itu menangis meratapi kepergian istrinya tercinta yang telah menemani hampir 50 tahun hidupnya. Kami anak-anaknya berusaha menghibur, .. tetapi memang tidak ada gunanya.

Beruntung, tetangga-tetangga di sekitar bapak sangat guyup dalam membantu dari awal sampai akhir, dari masalah pemakaman hingga masalah dapur. Sungguh elok gotong-royong warga sekitar. Mereka dengan sukarela membantu tanpa pamrih, tanpa dibayar sepeserpun. Semoga Allah memberikan kemuliaan untuk mereka.

Ketika tiba saat-nya kami pulang (bapak menolak untuk tinggal bersama kami), bapak hanya berkata, minta didoakan agar kuat menjalani kehidupan mendatang tanpa ibu, dan akan mengabdikan hidupnya untuk Gereja.

Tentu saja Bapak, .. kami selalu mendoakan Bapak dan kami akan sering-sering mudik untuk menengok Bapak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar